Beranda | Artikel
Jalan Petunjuk dan Jalan Kesesatan
12 jam lalu

Jalan Petunjuk dan Jalan Kesesatan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Fawaidul Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 28 Rabiul Awal 1448 H / 10 September 2026 M.

Kajian Islam Tentang Jalan Petunjuk dan Jalan Kesesatan

وَكَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ

“Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Quran (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh, dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa.” (QS. Al-An’am[6]: 55)

Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman:

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa`[4]: 115)

Dalam ayat pertama, Allah menyebut jalan orang-orang yang durhaka, yaitu orang-orang yang menyimpang, dengan istilah sabilul mujrimin. Dalam ayat kedua, Allah menyebut jalan orang-orang beriman dengan istilah sabilul mukminin. Orang-orang beriman yang ada ketika ayat ini diturunkan adalah para sahabat yang benar-benar beriman.

Dengan demikian, barang siapa menyelisihi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah jelas petunjuk baginya, lalu mengikuti selain jalan para sahabat dan orang-orang beriman, Allah akan membiarkannya dalam kesesatan yang telah dipilihnya dan memasukkannya ke dalam Jahanam, seburuk-buruk tempat kembali.

Metode Al-Qur’an dalam Menjelaskan Kebenaran

Al-Qur’an memuat penjelasan yang rinci tentang dua jalan: jalan petunjuk dan jalan kesesatan. Imam Ibnu Qayyim Rahimahullahu Ta’ala berkata bahwa Allah Ta’ala telah menjelaskan dalam kitab-Nya jalan orang-orang beriman dan jalan orang-orang durhaka secara terperinci, termasuk akibat yang akan mereka terima serta sebab-sebab yang mengantarkan kepada masing-masing jalan.

Al-Qur’an menjelaskan secara rinci kesudahan yang akan diperoleh orang-orang beriman dan orang-orang durhaka. Al-Qur’an juga menjelaskan amalan orang-orang beriman, orang-orang durhaka, orang-orang kafir, orang-orang munafik, dan para pelaku syirik.

Al-Qur’an menerangkan siapa yang menolong orang-orang beriman dan siapa yang menolong orang-orang durhaka. Al-Qur’an juga menjelaskan bagaimana Allah memberikan taufik kepada orang-orang beriman serta berpaling dan tidak memberikan taufik kepada orang-orang durhaka.

Sebab-sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufik kepada hamba-hamba yang beriman, serta sebab-sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala berpaling dari orang-orang durhaka, semuanya disebutkan dengan rinci. Ini termasuk metode Al-Qur’an dalam menjelaskan kebenaran kepada manusia. Al-Qur’an tidak hanya menyebutkan kebenaran dan kebaikan, tetapi juga menjelaskan keburukan secara rinci.

Keburukan sering dihiasi oleh setan sehingga tampak baik dan diikuti banyak orang. Setan berusaha memalingkan manusia dari kebenaran dengan menampilkan sesuatu yang tampak indah untuk memperdaya mereka.

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

“Demikianlah Kami jadikan bagi setiap nabi musuh, yaitu setan-setan dari golongan manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah untuk memperdaya.” (QS. Al-An’am [6]: 112)

Kata-kata yang dihiasi dapat tampak seolah-olah benar, padahal tujuannya memperdaya manusia. Karena itu, diperlukan penjelasan agar manusia dapat membedakan yang baik dan yang buruk, serta membedakan petunjuk dari kesesatan dan penyimpangan.

Al-Qur’an menjelaskan kedua perkara tersebut dengan sangat rinci agar manusia memahaminya dan mudah membedakan keduanya dengan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mempelajari Kebenaran dan Keburukan

Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyallahu ‘Anhu pernah menanyakan berbagai fitnah yang akan terjadi pada umat setelah wafat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dalam pertanyaannya, beliau menunjukkan tingginya pemahaman tentang cara mempelajari Islam agar menjadi sebab keselamatan.

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي

“Orang-orang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir mengalaminya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah metode dalam mempelajari agama. Kebenaran, kebaikan, dan jalan petunjuk perlu dipahami secara rinci. Namun, jalan keburukan tidak boleh dilupakan karena terkadang dibungkus dengan kata-kata indah yang menipu.

Kebatilan terkadang dikesankan memiliki dalil pendukung atau disampaikan dengan bahasa retorika yang indah. Pernyataan yang terkenal dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu ketika membantah penyimpangan Khawarij menggambarkan hal ini: “Kalimat yang benar, tetapi dimaksudkan untuk kebatilan.” Kata-kata yang mereka gunakan seolah-olah bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah, padahal tujuannya adalah kesesatan.

Kejelasan Jalan Petunjuk dan Jalan Kesesatan

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan dua perkara dalam Al-Qur’an: jalan petunjuk dan jalan kesesatan, jalan orang-orang beriman dan jalan orang-orang durhaka. Allah menyingkap dan menerangkannya dengan sejelas-jelasnya.

Kejelasan tersebut dapat disaksikan oleh mata hati manusia, sebagaimana mata kepala menyaksikan perbedaan antara terang dan gelap, serta antara malam dan siang.

Tidak boleh ada kesamaran dalam perkara ini. Jika terjadi kesamaran, orang dapat menganggap petunjuk sebagai kesesatan dan kesesatan sebagai petunjuk. Umar bin Al-Khattab Radhiyallahu ‘Anhu pernah menjelaskan bahwa keterputusan ikatan Islam terjadi ketika tumbuh generasi yang tidak mengenal perkara-perkara jahiliah, keburukan, dan berbagai penyimpangan.

Ketidaktahuan tersebut membuat mereka mudah tertipu oleh sesuatu yang dibungkus seolah-olah sebagai kebenaran. Akibatnya, mereka mengikutinya dan ikatan Islam terlepas satu demi satu.

Agama ini jelas, malamnya seperti siangnya. Orang yang benar-benar mempelajari agama akan memahaminya dan memperoleh petunjuk. Ia juga memiliki furqan, yaitu kemampuan membedakan kebenaran dan kebatilan. Al-Qur’an diturunkan sebagai pembeda antara kebenaran dan kebatilan.

وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرْقٌ بَيْنَ النَّاسِ

“Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga menjadi pembeda antara manusia (yakni membedakan orang-orang yang sesat dari orang-orang yang memperoleh petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala).” (HR. Bukhari)

تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا، لاَ يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلاَّ هَالِكٌ

“Sungguh, aku telah meninggalkan kalian di atas petunjuk yang putih dan bersih. Malamnya seperti siangnya. Tidak ada yang menyimpang dari petunjukku setelahku kecuali orang-orang yang binasa.” (HR. Ahmad)

Mengenal Jalan Orang Beriman dan Orang Tersesat

Orang yang dikatakan berilmu tentang Allah, kitab-Nya, Al-Qur’an, dan agama-Nya adalah orang yang mengenal jalan kaum mukminin dengan pengetahuan yang rinci dan mendetail, sebagaimana ia mengenal jalan orang-orang tersesat dan orang-orang durhaka.

Orang yang berilmu memiliki pengetahuan yang rinci. Kitab-kitab para ulama ketika menjelaskan perkara akidah tidak hanya membahas tauhid dan cara mentauhidkan Allah, tetapi juga menjelaskan secara rinci hakikat syirik, sebab terjadinya, serta jenis-jenisnya, baik syirik besar maupun syirik kecil.

Seseorang akan semakin kuat berpegang teguh pada tauhid apabila mengenal lawannya sehingga semakin mampu meninggalkannya. Demikian pula, seseorang akan semakin kuat berpegang teguh pada sunnah apabila mengenal bid’ah secara rinci sehingga menjauhi sekecil apa pun bentuknya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ

“Sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan, dan setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah.” (HR. Muslim)

Dengan mengenal kebaikan yang paling tinggi dan keburukan yang paling besar, seseorang akan semakin kuat berpegang teguh pada petunjuk, semakin membenci keburukan, dan berusaha menjauhinya.

Orang yang berilmu juga mengenal jalan orang-orang yang durhaka secara rinci. Dengan demikian, kedua jalan tersebut menjadi terang di hadapannya. Atas taufik Allah, ia mudah menempuh jalan kebenaran tanpa kerancuan dan kesamaran, meskipun tipu daya setan terus dilancarkan untuk menyesatkannya.

Keadaan ini seperti orang yang hendak menempuh suatu jalan. Ia harus mengetahui jalan yang menyampaikannya kepada tujuan dan jalan yang membawanya menuju jurang kebinasaan. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang dapat menggunakan peta atau bertanya kepada orang yang pernah menempuh jalan tersebut. Dengan cara itu pun seseorang masih mungkin tersesat, terlebih jika jalan yang dihadapinya sama sekali tidak jelas.

Jalan Islam yang lurus hanya satu, sedangkan jalan yang menyimpang jumlahnya banyak. Bentuk dan ajakannya bermacam-macam.

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

“Inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah jalan itu dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am [6]: 153)

Tanpa petunjuk dan ilmu yang rinci, seseorang tidak akan mampu meniti jalan keselamatan serta bersabar untuk tidak mengikuti jalan-jalan penyimpangan yang senantiasa diserukan setan.

Orang-orang yang mengetahui kedua jalan tersebut secara rinci adalah manusia yang paling berilmu, paling memahami agama, paling bermanfaat bagi manusia, dan paling baik dalam menasihati kaum muslimin. Mereka menjadi rambu-rambu penerang dan petunjuk yang membimbing langkah manusia.

Karena itu, keliru apabila seseorang mengatakan bahwa cukup mempelajari perkara yang benar dan lurus; dengan sendirinya ia akan mengenal keburukan. Pendapat ini menyimpang dari metode Al-Qur’an.

Al-Qur’an tidak hanya berisi pujian terhadap para sahabat, orang-orang beriman, orang-orang yang berpegang teguh pada petunjuk Allah, para nabi, para rasul, dan orang-orang saleh. Al-Qur’an juga menjelaskan orang-orang munafik secara rinci, bahkan terdapat surah yang membahas sifat-sifat mereka.

Dalam Surah At-Taubah, Allah banyak menyebutkan ciri-ciri orang munafik dan orang kafir. Allah juga menjelaskan para pelaku syirik, perbuatan syirik yang mereka lakukan, hingga keadaan mereka di neraka.

Hal ini juga merupakan metode para ulama salaf ketika menjelaskan perkara iman. Mereka menerangkan pemahaman Ahlus Sunah wal Jamaah tentang iman, sekaligus menjelaskan penyimpangan kaum Murjiah, Khawarij, dan kelompok-kelompok yang memiliki pemahaman menyimpang. Dengan demikian, jalan orang-orang beriman dan jalan orang-orang durhaka menjadi jelas secara rinci.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak kajian lengkapnya.

Download MP3 Kajian


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56542-jalan-petunjuk-dan-jalan-kesesatan/